I’m a journalist for the local newspaper. I enjoy my job and the whole team there is just wonderful.

PORTCARD ©

About

  • : Mahfudz Alimin
  • : Januari 25, 1990
  • : Pekalongan - Central Java,Id
  • : mahfudz.alimin@gmail.com
  • : +62 858 0061 9076
  • : www.mahfudzsabana.com

Motto :
Jangan batasi ruang gerakmu sendiri. Keluarlah, dari situ kamu tahu apa yang harus kau lakukan dengan segala kebisaanmu










Resume

Employment


Education

Portfolio

Jurnalistik

Dalam sebuah perjalanan, bagi kalian yang suka banget terhadap fotografi pemandangan indah seringkali membuat kita memaksakan diri untuk menginjak rem dan berhenti sejenak. Baik hanya sekedar menikmati hingga mengabadikannya dibalik lensa anda. 

Yupz.. pengabadian. Demikanlah yang juga dilakukan oleh tim backlens. tidak hanya sekedar dinikmati sendiri, melainkan berbagi keindahan tersebut dengan yang lainnya. 

Bagi kalian yang melewati daerah Banjarnegara, baik hendak ke Dieng atau sekitarnya. Gak ada salahnya kalian mampir di Kalibening-Banjarnegara. Pemandangan yang indah ini cukup untuk membayar ekstrimnya jalur yang dilewati.

Dengan jalan yang terletak di ketinggian, menjadikan pemandangan kita tak terhalang oleh pepohonan yang rindang. Yang lebih menakjubkan lagi, kita juga disuguhkan dengan bukit pandang yang akan mengajak kita memandang keindahan banjarnegara dari ketinggian. tak hanya itu, gunung tinggi menjulang pun turut menghiasi indahnya hutan buah salak tersebut. warga menyebutnya dengan Gunung Winihan. 



Read more Posted Under: ,

Read more Posted Under: , ,
Lokasi : surabayan, Wonopringgo - Kabupaten Pekalongan.


Sore menjelang, aktifitas pun terpaksa harus kami hentikan. Kendaraan butut menemani langkah menuju rumah untuk sekedar melapas lelah. Angin jalanan yang merambah kulit, seperti menghantarkan angan akan segarnya guyuran air kala sudah sampai rumah.
Disebuah desa yang berada ditepi jalan tempat kumelintas, pandanganku tertuju pada kerumunan warga, berbaris tak beraturan. Ramai. Hingga kusempatkan berhenti sejenak, sembari bertanya. “ada apa ya pak kog sepertinya ramai banget ?” tanyaku pada seorang warga.
“udik-udikan mas.. iku lho.. ngrayahke duit..” jawab pria tersebut. Kholidin (54) namanya.
Udik-udikan, ya.. istilah tersebut sudah tidak asing lagi ditelinga warga Pekalongan khususnya dan warga Jawa pada umumnya. Sebab hal tersebut merupakan tradisi yang sudah dijalankan warga sudah berabad-abad silam. Yaitu tradisi bersedekah sebagai rasa syukur yang dilakukan dengan cara menyebar uang receh kepada warga yang sudah berkumpul di halaman rumahnya.
Kholidin warga Surabayan salah satunya, ia mengaku sudah mengikuti tradisi tersebut sejak dirinya masih kecil. “Sudah sejak dulu, jamane aku masih kecil sudah ada tradisi kaya gini (udik-udikan-red)”, katanya.
Terkait konsep udik-udikan itu sendiri, Kholidin menerangkan selain menyebarkan uang dengan cara dilempar ke warga, ada juga cara lain untuk menarik antusias warga. “Ada banyak cara dalam memeriahkan udik-udikan tersebut, diantarnya dengan memberikan kuponyang ditempel dalam uang logam tersebut, untuk kemudian ditukar dengan hadiah”, jelasnya.
Ia menambahkan selain kupon, ternyata ada cara unik yang masih jarang melakukannya. Yaitu dengan melepas unggas, baik itik maupun ayam yang dilemparkan diakhir setelah uang receh habis. “Seru pokoknya kalau sohibul hajat ada yang melepaskan unggas juga. Sudah rame dalam berebut uang recehnya, mereka masih disuguhkan unggas untuk diperebutkan juga..
Read more Posted Under: , , ,
Seadanya: Warung Puncak Lawu Mbok Yem masih berdiri kokoh dengan fasilitas seadanya. 
Sebagian besar orang yang mempunyai hobi mendaki gunung, terlebih bagi mereka yang sudah pernah menginjakkan kakinya di puncak Gunung Lawu tentunya tak asing dengan warung "mbok yem".
Warung yang berada di ketinggian  3.265 Mdpl ini sudah berdiri lebih dari dari 15 tahun silam. Akibat sering dimintai tolong untuk membuatkan kopi dan mie instan oleh para pendaki, Mbok Yem yang kesehariannya mencari akar-akaran di puncak gunung lawu untuk kemudian diramu menjadi sebuah jamu, ia memutuskan untuk mendirikan sebuah warung di puncak tersebut.
Untuk kebutuhan perbelanjaan, Mbok Yem dibantu oleh anak laki-lakinya yang siap membelanjakan kebutuhan warungnya dengan berbelanja satu minggu sekali ke pasar Magetan. 
Sedabgkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di warungnya, awalnya ia menggunakan deasel dengan bahan bakar bensin, namun kini ia menggunakan Sollar Cell atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya. 
Read more Posted Under: ,

Read more Posted Under: , ,

Videos

Popular Post

Comments

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required