I’m a journalist for the local newspaper. I enjoy my job and the whole team there is just wonderful.

PORTCARD ©

About

  • : Mahfudz Alimin
  • : Januari 25, 1990
  • : Pekalongan - Central Java,Id
  • : mahfudz.alimin@gmail.com
  • : +62 858 0061 9076
  • : www.mahfudzsabana.com

Motto :
Jangan batasi ruang gerakmu sendiri. Keluarlah, dari situ kamu tahu apa yang harus kau lakukan dengan segala kebisaanmu










Resume

Employment


Education

Portfolio

Human Interest

Craft Life.. Don't Let Life Craft You


Teringat film "chappie" (bukan dibaca kepiye). sebuah film unik yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Neill Blomkamp dan Terri Tathcell. Sebuah film yang menceritakan terciptanya robot scott yang banyak membantu manusia di kota Johannesburg khususnya dalam kepolisian. sehingga scott tersebut dikembangkan menjadi sebuah robot berhati manusia yang lahir kembali laksana bayi yang baru lahir.
Namun bukan cerita tersebut yang akan saya sampaikan. melainkan lebih ke subuah poin motivasi yang bisa mendorong kita agar tidak terbawa arus trend yang dikit-dikit basi, dikit-dikit basi.
Sebuah poin tersebut saya ambil ketika Deon Wilson (Dev Patel), seorang pencipta ratusan robot scott tersebut mengembangkan sistem dalam robot ciptaannya dan akan mengujinya dalam scott yang rusak dan hampir didaur ulang.
Namun perizinan menguji coba tersebut tidak disetujui oleh Michelle Bradley (Sigourney Weaver) selaku CEO perusahaan robot scott. Dan deon pun undur diri dari hadapannya dan kembali ke ruang kerja.
Dalam ruang kerja deon terpasang sebuah poster yang memotivasi dirinya untuk terus menjalankan projek tersebut. poster tersebut bertuliskan:
"craft life.. dont let life craft you" atau dalam bahasa indonesia artinya "bentuklah kehidupan, jangan biarkan kehidupan membentukmu"
Dari situlah Deon kembali ada semangat untuk melanjutkan projeknya tersebut. yaitu kinerja scott sebagai robot dengan kemampuan kecerdasan sejati. maksudnya adalah scott yang saat ini hanya melakukan perintah ia kembangkan menjadi robot berhati manusia dengan kecerdasan dari nol akan tetapi kemampuan menangkap informasinya sangat cepat. 

Dan saya sepakat dengan  kata - kata tersebut. Dan mengimplementasikannya dalam kehidupan serba kekinian. Kita seharusnya justru yang membuat sebuah kehidupan, jangan sampai kita yang terbawa arus kehidupan yang cenderung berburu "trend". Untuk mengakhiri tulisan saya, keep your self, and do movement.

Oh iya.. yang penasaran  filmnya gimana, kalian bisa langsung sedot aja disini

http://p.pw/bah7IG

Read more Posted Under:
Lokasi : surabayan, Wonopringgo - Kabupaten Pekalongan.


Sore menjelang, aktifitas pun terpaksa harus kami hentikan. Kendaraan butut menemani langkah menuju rumah untuk sekedar melapas lelah. Angin jalanan yang merambah kulit, seperti menghantarkan angan akan segarnya guyuran air kala sudah sampai rumah.
Disebuah desa yang berada ditepi jalan tempat kumelintas, pandanganku tertuju pada kerumunan warga, berbaris tak beraturan. Ramai. Hingga kusempatkan berhenti sejenak, sembari bertanya. “ada apa ya pak kog sepertinya ramai banget ?” tanyaku pada seorang warga.
“udik-udikan mas.. iku lho.. ngrayahke duit..” jawab pria tersebut. Kholidin (54) namanya.
Udik-udikan, ya.. istilah tersebut sudah tidak asing lagi ditelinga warga Pekalongan khususnya dan warga Jawa pada umumnya. Sebab hal tersebut merupakan tradisi yang sudah dijalankan warga sudah berabad-abad silam. Yaitu tradisi bersedekah sebagai rasa syukur yang dilakukan dengan cara menyebar uang receh kepada warga yang sudah berkumpul di halaman rumahnya.
Kholidin warga Surabayan salah satunya, ia mengaku sudah mengikuti tradisi tersebut sejak dirinya masih kecil. “Sudah sejak dulu, jamane aku masih kecil sudah ada tradisi kaya gini (udik-udikan-red)”, katanya.
Terkait konsep udik-udikan itu sendiri, Kholidin menerangkan selain menyebarkan uang dengan cara dilempar ke warga, ada juga cara lain untuk menarik antusias warga. “Ada banyak cara dalam memeriahkan udik-udikan tersebut, diantarnya dengan memberikan kuponyang ditempel dalam uang logam tersebut, untuk kemudian ditukar dengan hadiah”, jelasnya.
Ia menambahkan selain kupon, ternyata ada cara unik yang masih jarang melakukannya. Yaitu dengan melepas unggas, baik itik maupun ayam yang dilemparkan diakhir setelah uang receh habis. “Seru pokoknya kalau sohibul hajat ada yang melepaskan unggas juga. Sudah rame dalam berebut uang recehnya, mereka masih disuguhkan unggas untuk diperebutkan juga..
Read more Posted Under: , , ,
Seadanya: Warung Puncak Lawu Mbok Yem masih berdiri kokoh dengan fasilitas seadanya. 
Sebagian besar orang yang mempunyai hobi mendaki gunung, terlebih bagi mereka yang sudah pernah menginjakkan kakinya di puncak Gunung Lawu tentunya tak asing dengan warung "mbok yem".
Warung yang berada di ketinggian  3.265 Mdpl ini sudah berdiri lebih dari dari 15 tahun silam. Akibat sering dimintai tolong untuk membuatkan kopi dan mie instan oleh para pendaki, Mbok Yem yang kesehariannya mencari akar-akaran di puncak gunung lawu untuk kemudian diramu menjadi sebuah jamu, ia memutuskan untuk mendirikan sebuah warung di puncak tersebut.
Untuk kebutuhan perbelanjaan, Mbok Yem dibantu oleh anak laki-lakinya yang siap membelanjakan kebutuhan warungnya dengan berbelanja satu minggu sekali ke pasar Magetan. 
Sedabgkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di warungnya, awalnya ia menggunakan deasel dengan bahan bakar bensin, namun kini ia menggunakan Sollar Cell atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya. 
Read more Posted Under: ,

Read more Posted Under: , , ,

Read more Posted Under: , ,

Videos

Popular Post

Comments

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required