I’m a journalist for the local newspaper. I enjoy my job and the whole team there is just wonderful.

PORTCARD ©

About

  • : Mahfudz Alimin
  • : Januari 25, 1990
  • : Pekalongan - Central Java,Id
  • : mahfudz.alimin@gmail.com
  • : +62 858 0061 9076
  • : www.mahfudzsabana.com

Motto :
Jangan batasi ruang gerakmu sendiri. Keluarlah, dari situ kamu tahu apa yang harus kau lakukan dengan segala kebisaanmu










Resume

Employment


Education

Portfolio

Budaya


Read more Posted Under: , ,
Acara ruwatan pemotongan rambut gimbal yang dirangkum dalam rangkaian acara Dieng Culture Festival (DCF) 2015 pada 31 juli hingga 2 agustus berjalan sangat meriah. Peserta disuguhi berbagai keidahan. dari mulai jazz atas awan, pelepasan ribuan lampion, pentas budaya hingga keajaiban alam yang langka terjadi di bumi indonesia, yaitu butiran salju yang benar-benar nyata muncul di hari terakhir (2/8) pelaksanaan #DCF2015 tersebut.

Butiran salju memenuhi jok motor peserta DCF2015 yang terparkir di lapangan pandawa, dekat candi arjuna. (photo : mahfudz)
Suyatno (54) warga setempat mengatakan keajaiban alam tersebut sering terjadi di musim kemarau di dataran tinggi terindah di jawa tengah tersebut, dan warga menyebutnya dengan "bun upas".
"biasanya tiap musim kemarau, sekitar agustus september gitu" katanya.
pengunjung disibukkan dengn mmebersihkan butiran salju yang menempel di jok motor mereka.

Ia juga menambahkan, kemunculan bun upas tersebut banyak dinanti oleh para pelancong untuk membuktikan rasa penasarannya. namun disisi lain, namun justru oleh petani setempat  dinilai mengganggu, sebab menghambat pertumbuhan tumbuhan kentang di daerah tersebut.
"biasanya kalau ada bun upas gini para petani membuat pengapian di sekitar tanaman sawah mereka. setidaknya bisa mengurangi dampak dari bun upas ini" jelasnya.



dari Banjarnegara Anaa Wasiila​ melaporkan untuk backlens
Read more Posted Under: ,
Lokasi : surabayan, Wonopringgo - Kabupaten Pekalongan.


Sore menjelang, aktifitas pun terpaksa harus kami hentikan. Kendaraan butut menemani langkah menuju rumah untuk sekedar melapas lelah. Angin jalanan yang merambah kulit, seperti menghantarkan angan akan segarnya guyuran air kala sudah sampai rumah.
Disebuah desa yang berada ditepi jalan tempat kumelintas, pandanganku tertuju pada kerumunan warga, berbaris tak beraturan. Ramai. Hingga kusempatkan berhenti sejenak, sembari bertanya. “ada apa ya pak kog sepertinya ramai banget ?” tanyaku pada seorang warga.
“udik-udikan mas.. iku lho.. ngrayahke duit..” jawab pria tersebut. Kholidin (54) namanya.
Udik-udikan, ya.. istilah tersebut sudah tidak asing lagi ditelinga warga Pekalongan khususnya dan warga Jawa pada umumnya. Sebab hal tersebut merupakan tradisi yang sudah dijalankan warga sudah berabad-abad silam. Yaitu tradisi bersedekah sebagai rasa syukur yang dilakukan dengan cara menyebar uang receh kepada warga yang sudah berkumpul di halaman rumahnya.
Kholidin warga Surabayan salah satunya, ia mengaku sudah mengikuti tradisi tersebut sejak dirinya masih kecil. “Sudah sejak dulu, jamane aku masih kecil sudah ada tradisi kaya gini (udik-udikan-red)”, katanya.
Terkait konsep udik-udikan itu sendiri, Kholidin menerangkan selain menyebarkan uang dengan cara dilempar ke warga, ada juga cara lain untuk menarik antusias warga. “Ada banyak cara dalam memeriahkan udik-udikan tersebut, diantarnya dengan memberikan kuponyang ditempel dalam uang logam tersebut, untuk kemudian ditukar dengan hadiah”, jelasnya.
Ia menambahkan selain kupon, ternyata ada cara unik yang masih jarang melakukannya. Yaitu dengan melepas unggas, baik itik maupun ayam yang dilemparkan diakhir setelah uang receh habis. “Seru pokoknya kalau sohibul hajat ada yang melepaskan unggas juga. Sudah rame dalam berebut uang recehnya, mereka masih disuguhkan unggas untuk diperebutkan juga..
Read more Posted Under: , , ,

Videos

Popular Post

Comments

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required